Video Bar

Loading...

Pages

DI BAWAH GERIMIS MALAM SERUA INDAH

Catatan Dari Meja Nusa Dua Dan Café Bandar [42]


"DI BAWAH GERIMIS MALAM SERUA INDAH"


Pada titik ini, temu antar seniman di Serua Indah-Suka Damai sampai pada soal
"sastra-seni kepulauan".

Dalam pandanganku konsep "sastra-seni kepulauan" ini sangat penting Indonesia
dan bahkan kuanggap sesuai dengan nilai-nilai republiken serta nilai Indonesia
itu sendiri.

Bagiku, ketika kita menyebut negeri ini sebagai Republik Indonesia,maka di
dalamnya terkandung serangkaian nilai republiken dan nilai-nilai
keindonesiaan.Yang kumaksudkan dengan nilai-nilai republiken adalah
kemerdekaan, kesetaraan dan persaudaraan [liberté, egalité, fraternité] nilai
warisan Revolusi Perancis yang Prancis sendiri belum selesai mewujudkannya.Aku
tidak melihat adanya nilai lain dari nilai-nilai di atas ketika "founding
fathers" kita menamakan negeri ini sebagai "Republik Indonesia" [R.I].Sehingga
Republik dan Indonesia merupakan rangkaian nilai yang dijadikan pegangan untuk
berbangsa dan bernegara.

Tapi sejarah perkembangan R.I, sering mempertontonkan ke dunia bahwa
nilai-nilai republiken itu dijadikan puntung rokok di bawah tumit sepatu.Bahkan
sampai pada hari ini. R.I. pun pernah merosot menjadi militerisme dan kerajaan
feodal.

Ketika nilai-nilai republiken dan Indonesia ini tidak diterapkan maka Indonesia
akan tetap jadi semacam negara penindasan.Pusat dan mayoritas menindas
minoritas. Orang Indonesia menjajah orang Indonesia.Pusat menindas
daerah.Celakanya daerah selalu dikambinghitamkan.Padahal perlawanan daerah
adalah reaksi terhadap pilihan politik Pusat.Sehingga masalah sebenarnya
bukanlah terletak pada separatisme tetapi pada apa bagaimana politik pemerintah
Pusat di Jakarta. Jika mau berbicara tentang yang disebut separatisme,maka
pertanyaan utama kukira adalah apakah Jakarta menyetiai ide republiken dan
Indonesia.Jangan dilihat secara terbalik dan menjadikan daerah sebagai kambing
hitam. Hanya saja pola pikir mencari kambing hitam, sangat kental di negeri ini.

Yang diabaikan sampai sekarang juga adalah nilai keindonesiaan. Apakah nilai
keindonesiaan itu? Nilai keindonesiaan bagiku tidak lain daripada kemajemukan
sebagaimana diruluskan dalam motto:"bhinneka tunggal ika".

Malangnya motto yang merumuskan nilai keindonesiaan ini termasuk kurang
diindahkan oleh para budayawan dengan menegakkan atau kecenderungan untuk
menegakkan dominasi nilai yang bersifat sentris, terutama Jakarta sentris ,
paralel dengan pengerti Republik Indonsia sebagai NKRI yang sentralistik.
Sentralisme nilai begini kukira adalah ujud dari ide NKRI sentralistik di
bidang kebudayaan,khususnya sastra-seni.

Berbalikan dengan ide sentralistik dan pengangkangan nilai ini adalah konsep
sastra-seni kepulauan yang ingin mendesentralisasikannya, ingin melihat bahwa
pulmau-pulau dan daerah bisa berkembang juga menjadi pusat-pusat kebudayaan,
ingin menggali dan merevitalisasikan nilai-nilai serta potensi yang ada di
daerah.Konsep sastra-seni kepulauan, kukira juga merupakan suatu politik
kebudayaan dalam menyikapi macam-macam budaya dari luar negeri.Dengan adanya
universitas-universitas di setiap ibukota propinsi, kukira, syarat
berkembangtumbuhnya pusat-pusat kebudayaan di berbagai daerah, menjadi lebih
tersedia.

"Bhinneka tunggal ika" bagiku, sama dengan nilai keindonesiaan yang repuliken
dan bukan dominatif. Nilai dan sikap dominatif ini pun sebenarnya ditunjukkan
oleh penilaian bahwa yang disebut kebudayaan nasional itu adalah "puncak-puncak
kebudayaan daerah" [Lihat: Penjelasan UUD '45].Yang lebih sesuai dengan
nilai-nilai republiken dan keindonesiaan, adalah konsep "sastra-seni
kepulauan" sebagai pengewantahan dari ide "bhinekka tunggal ika". Adanya dan
bermunculannya komunitas-komunitas budaya di berbagai pulau atau daerah bisa
dipandang sebagai bentuk organisatoris dalam mewujudkan ide "sastra-seni
kepulauan".

Dalam hubungan inilah, kukira, apa yang dilakukan oleh penyair Tariganu ,
misalnya dengan penerbitan kaset "Puisi Pincala" menjadi penting,termasuk
kegiatan-kegiatan eksploratifnya di daerah-daerah seperti di Kalimantan.

Kalau dewasa ini sering dipertanyakan: "Apakah gerangan sekarang yang menjadi
perekat guna menjadi Indonesia", kukira pertanyaan ini lebih mungkin didapatkan
jawabannya melalui usaha menterapkan konsep "sastra-seni kepulauan" daripada
keinginan konsep sentralisasi dan dominasi nilai yang bisa dilebih persiskan
menjadi Jakarta sentris. Indonesia bukan hanya Jakarta atau Jawa.

Pandangan ini kuajukan dalam temu antar seniman di Serua Indah-Suka Damai
menanggapi apa yang diajukan oleh Targianu guna mendapatkan tanggapan-tanggapan
dan komentar balik.***


Paris,Nopember 2005
------------------
JJ. Kusni

0 comments :