Video Bar

Loading...

Pages

CATATAN TENTANG PERTEMUAN DAN KARYA ILMIAH

CATATAN TENTANG PERTEMUAN DAN KARYA ILMIAH

Oleh: Suko Bandiyono

Pertemuan ilmiah apapun namanya, dirasakan mempunyai manfaat banyak terlepas dari pemborosan biaya yang relatif tidak kecil. Manfaat yang dapat diperoleh terutama bagi mereka yang terlibat dalam dunia ilmu pengetahuan. Faedah pokok yang dapat diambil dari pertemuan ilmiah, antara lain para peserta dapat memperoleh pengetahuan tertentu dalam waktu singkat. DI dalam acara diskusi pada setiap pertemuan, para peserta diharapkan dapat saling tukar-menukar informasi dan pendapat tentang masalah yang sedang dibahas. Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk mencari kebenaran dan titik temu. Dalam pertemuan ilmiah beberapa peserta akan mempresentasikan makalahnya.

Sejalan dengan makin berkembangnya ilmu pengetahuan di Indonesia pada saat ini perlu diketahui pendekatan mengenai dasar-dasar teknik membuat karya ilmiah1). Makalah ini sendiri dimaksudkan sebagai pengantar untuk mendekati cara pembuatan karya ilmiah.

BEBERAPA PERTIMBANGAN UNTUK MEMBUAT KARYA ILMIAH

Sebelum berbincang-bincang mengenai beberapa pertimbangan untuk membuat karya ilmiah perlu diketahui terlebih dahulu mengenai pengertian dari jenis pertemuan ilmiah.

Pertemuan-pertemuan yang sekarang ini hidup dalam dunia ilmu pengetahuan antara lain:

  1. Simposium

    Asal kata simposium adalah symposion. Pengertian dasar simposium adalah suatu pertemuan di mana beberapa pembicara meyampaikan pemikiran atau konsep-konsep untuk suatu subyek tertentu atau bermacam-macam aspek pada subyek yang sama. Dasar dari simposium tersebut adalah usaha menampung pendapat-pendapat untuk suatu subyek. Dengan kalimat sederhana dapat diartikan sebagai kumpulan konsep-konsep yang akan diajukan oleh beberapa orang atas permintaan panitia simposium.
  2. Seminar

    Asal katanya adalah seminarium. Seperti halnya dalam simposium, para pembicara (pemrasaran) memberikan pemikiran yang kemudian didiskusikan bersama. Kalau dalam simposium tidak menghasilkan saran secara konkrit, maka dalam pertemuan bernama seminar, ada target untuk langsung membicarakan permasalahan dan selanjutnya memberikan saran yang konkrit.
  3. Workshop/Bengkel kerja/Temu karya

    Jenis pertemuan ini dicirikan dengan "bertemu untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu". Dalam pertemuan yang bernama workshop, kadang-kadang para peserta diminta untuk membuat prasaran yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan.
  4. Panel

    Dalam pertemuan panel jumlah panelis yang membicarakan suatu subyek tertentu. Para panelis yang dipilih datang dari mereka yang mempunyai disiplin dan pengalaman yang berbeda sesuai dengan yang diminta oleh panitia.
    Di dalam diskusi panel juga tidak ada saran konkrit yang dapat dikeluarkan.
  5. Kongres/Muktamar

    Suatu pertemuan resmi dari kelompok representasip untuk diskusi mengenai beberapa kepentingan bersama.

Beberapa jenis pertemuan lain yang ada, yaitu penataran, ceramah biasa, rapat kerja dan diskusi biasa.

Berdasarkan jenis pertemuan diskusi seperti yang disebutkan di atas akan menjadi pedoman seseorang yang ingin membuat makalah. Di dalam makalah yang bersifat prasaran, sifat komunikasi biasanya adalah dua arah. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan para peserta pertemuan (audience), dengan melihat homogenitas, dan latar belakang pendidikannya. Dan kadang-kadang perlu memperhatikan posisi jabatan para peserta.

Diskusi dengan peserta yang mempunyai jenis profesi yang sama akan lain sekali sifatnya bila dibandingkan dengan peserta yang orang-orangnya datang dari profesi lain. Diskusi dengan orang satu profesi, pemrasaran tidak perlu menjelaskan lebih mendalam mengenai beberapa istilah dan parameter yang telah diketahui bersama. Demikian pula perbedaan tingkat pendidikan di antara peserta dan pemrasaran akan menjadi bahan pertimbangan dalam penulisan makalah. Pemrasaran tentunya harus meyederhanakan dalam penyajian makalah apabila latar belakang pendidikan peserta rata-rata masih rendah. Demikian pula pertimbangan dalam penulisan makalah dengan melihat posisi mereka, Apakah komposisi peserta sebagian besar pejabat pemerintah?, mahasiswa? orang awam?.

Pertimbangan lain yang perlu sekali dipahami di sini adalah tujuan dari prasaran yang akan dikemukakan. Sebelum pemrasaran membuat makalah, panitia penyelenggara pertemuan (O.C) telah memberikan informasi tentang maksud dan tujuan pokok beserta sasaran yang ingin dicapai dari pertemuan tersebut. Panitia pertemuan biasanya telah menghubungi calon pemrasaran beberapa minggu bahkan beberapa bulan sebelum jadwal pertemuan diadakan. Dalam hal ini tujuan, isi dan judul dari makalah terlebih kadang-kadang telah telah ditetapkan oleh komite pengarah (Steering Commite). Dalam permintaan untuk memberikan makalah panitia pertemuan juga telah memberitahukan bahwa makalah yang akan dibuat apakah bersifat teori, sanggahan, opini, teknis, dan lain sebagainya. Pengetahuan mengenai hal ini antara lain akan menjadi bahan pertimbangan apakah makalah tersebut akan bersifat essai, kolom, artikel atau monografi.

Untuk dapat berkomunikasi dengan sukses, perlu dipertimbangkan siapa yang berbicara, kepada siapa, bagaimana caranya dan apa akibatnya.

MEMBUAT MAKALAH

Manfaat yang dapat dipetik dari pembuatan makalah antara lain para peserta dapat mengikuti jalan pemikiran pemrasaran hingga diharapkan diskusi akan berjalan lancar. Sebaiknya makalah telah dibagikan kepada para peserta sidang paling akhir satu hari sebelum makalah tersebut dibicarakan. Dengan demikian baik pemrasaran maupun peserta sidang dapat lebih memahami isinya dengan lebih sempurna, sehingga akan keluar pemikiran-pemikiran seperti yang diharapkan. Makalah itu sendiri merupakan dokumen yang dapat dimanfaakan oleh pembaca maupun oleh pembuat makalah itu sendiri di kemudian hari. Bentuk, isi dan gaya dalam penulisan makalah akan menentukan proses difusi pemikiran kepada pembaca. Bentuk, isi dan gaya penulisan tersebut sebaiknya ditentukan terlebih dahulu untuk dapat menyesuaikan diri dengan komposisi peserta seperti yang telah disebutkan di atas. Para pembaca akhirnya akan menilai makalah tersebut.

Sampai saat ini cara penulisan makalah belum ada kesamaan pendapat di antara para pakar. Hal ini terutama sekali sangat tergantung kepada pengetahuan dan kreativitas pembuat makalah itu sendiri. Mempelajari cara membuat makalah dan sejenisnya, laporan penelitian misalnya, mempunyai seni tersendiri. Di sini ada suatu ruang lingkup yang memerlukan kecerdikandan kreativitas. Untuk memudahkan proses pembuatan makalah, perlu dipikirkan terlebih dahulu garis-garis besar jalan pemikiran yang akan dituangkan dalam tulisan, (line of thought). Salah satu cara untuk mempermudah dalam memperoleh gambaran mengenai jalan pemikiran tersebut kadang-kadang perlu juga mempersiapkan bahan bacaan yang relevan dengan dengan rencana makalah terlebih dahulu. Selanjutnya bahan dokumen dan bacaan dari orang lain akan memperkaya sekali dalam proses penyelesaian makalah tersebut. Dengan membaca dapat diperoleh pengetahuan dari orang lain secara meluas.

Bagaimanapun juga dalam beberapa hal perhatian perlu diberikan dalam gaya penulisan. Di sini dapat dianjurkan beberapa petunjuk dasar dalam penulisan makalah.

  1. Makalah tersebut adalah anda yang memiliki, makalah sebaiknya mencerminkan observasi tangan pertama anda. Perlu kejujuran dalam mengerjakan dan keyakinan.
  2. Makalah harus konkrit. Di sini perlu diingat bahwa pembaca makalah akan berfikir: "Apa yang dapat diketahui dari sana? apa yang dapat dirasakan? Apa artinya dalam pelaksanaan?"
  3. Makalah harus mempunyai titik sentral. Makalah perlu dibatasi terhadap beberapa pemikiran yang dapat diamati secara penuh, menerangkan, dan membantu. Ruang lingkupnya terbatas, tetapi mencakup pemikiran secara baik.
  4. Makalah sebaiknya harmonis. Apabila pemikiran penulis pindah dari satu titik ke titik lain, pembaca sebaiknya dapat mengikuti.
  5. Makalah harus bertanggung jawab. Di sini perlu mempelejari kenyataan yang ada di mana akan memperhitungkan asumsi-asumsi yang dipakai, tujuan, yang dapat melemahkan kasus yang dibicarakan. Hargailah setiap pendapat orang lain dalam pembahasan makalah.
  6. Makalah ditulis secara jelas. Kalimat yang digunakan sedapat mungkin harus sederhana. Kalimat yang sederhana akan menunjukkan suatu pemikiran yang lebih jelas daripada kalimat yang kompleks. Demikian pula jangan menulis paragrap terlalu panjang.
  7. Berhati-hati dalam terminologi. Dalam terminologi ilmiah harus ada defenisi dan digunakan secara konsisten.
  8. Memperhatikan tata bahasa. Pembuat makalah walaupun mempunyai pemikiran yang sempurna tetapi tidak di ikuti dengan penggunaan bahasa yang baik akan melemahkan makalah.
  9. Lainnya

Dalam menuju ke arah penulisan makalah yang baik, tentu saja perlu pengalaman yang cukup, dan memerlukan tempo belajar yang relatif lama. Banyak orang yang pandai bicara tetapi kurang berani dalam memulai suatu proses penulisan makalah. Mereka antara lain masih belum punya bekal kepercayaan diri dan ketrampilan menulis yang cukup. Dalam hal ini diperlukan sekali kecintaan untuk membaca dan menulis

1) Untuk lebih memahami tentang penyusunan karya ilmiah dapat dibaca pada buletin PPT-LIPI (i) no. 1. 1989

>> http://www.oseanografi.lipi.go.id/index.php

0 comments :